MTs/SMP INFORMATIKA MIMHa

VISI 2015
Menjadi lembaga pendidikan yang ramah dan mengoptimalkan beragam kecerdasan

MISI 2015
1. Mengembangkan kurikulum tingkat satuan pendidikan dan instrumen penilaian yang mengoptimalkan beragam kecerdasan
2. Menyelenggarakan proses pembelajaran yang ramah dan mengoptimalkan beragam kecerdasan
3. Membangun mutu pendidik dan tenaga kependidikan yang ramah dan mengoptimalkan beragam kecerdasan
4. Menyediakan sarana prasarana yang SALAMAN (Sehat, Aman, Lengkap, Mudah, Nyaman) dan menfasilitasi beragam kecerdasan
5. Membangun sistem pengelolaan pendidikan yang ramah dan mengoptimalkan beragam kecerdasan

Rancang Bangun Madrasah Interaktif
Sebuah kekuatan paradigma

“Didiklah anakmu karena dia akan menghadapi zaman yang berbeda denganmu.”
(Ali Bin Abi Thalib r.a)

START OF VIEW

Paradigma interaktif kami pilih sebagai bentuk keprihatinan melihat fenomena pendidikan yang terlihat intelektualistis dengan hanya mengejar aspek kognitif belaka yang tercermin dalam UAN sekarang ini. Padahal jelas-jelas dalam tujuan pendidikan dinyatakan tujuan pendidikan tidak sempit pada pengembangan kognitif tetapi lebih holistik mencakup pengembangan seluruh aspek dari potensi manusia.
Dengan demikian pendidikan kedepan memerlukan pendidikan yang lebih ramah dan bisa mengoptimalkan proses pendidikan dengan lebih menyeluruh dalam semua aspek baik kognitif, fisik, sosial-emosi, kreativitas, dan spiritual. Sekolah dengan model pendidikan seperti ini berorientasi pada pembentukan anak sebagai manusia yang utuh. Kualitas anak didik menjadi unggul tidak hanya dalam aspek kognitif, namun juga dalam karakternya. Anak yang unggul dalam karakter akan mampu menghadapi segala persoalan dan tantangan dalam hidupnya kini dan kedepan. Disinilah Madrasah Interaktif mencoba mengambil posisi dengan membangun sisi karakter lebih khususnya karakter Tauhid.

PIJAKAN MADRASAH INTERAKTIF

“… Jadilah kalian generasi Rabbani dengan sebab kalian mengajarkan Al Kitab (Al Quran) dan belajar (Alquran)“. (QS Ali Imran:79)

“Pijakan akan menentukan hasil yang kita dapatkan”
(Abu Asyad)

Interaktif bagi kami saat ini merupakan thariqah perjuangan dalam mewujudkan sebuah pembelajaran yang membahagiakan seperti yang kami cita-citakan.
Paradigma interaktif senyatanya terbangun diatas tiga pondasi sebagai dasar dalam proses sebuah pembelajaran yang kami selenggarakan, 3 pilar itu adalah: Pertama, Sekolah tidak semata-mata mengajarkan kompetensi akademis, tetapi juga pengembangan karakter dan kepemimpinan. kedua, Sekolah hanyalah salah satu dari tiga subsistem pendidikan yang diterima seorang anak, dua yang lainnya adalah subsistem pendidikan keluarga, dan subsistem pendidikan masyarakat. Ketiga, Sinergi dari tiga subsistem ini insyaAllah dirancang untuk menghasilkan output pendidikan yang bersifat holistik (generasi tauhid): sehingga dengannya anak menjadi bahagia dan bersyukur menjadi dirinya sendiri, bakat dan potensinya teraktualisasi, berkontribusi dengan semangat rahmat bagi semesta alam.

Kerjasama tiga subsistem

Keluarga
Sekolah interaktif memandang bahwa karakter anak dibentuk secara efektif oleh keluarga. Kebiasaan sehari-hari di rumah yang dilakukan berulang, dan anak merasa aman dan nyaman melakukannya, sehingga dianggap anak sebagai bagian dan nilai-nilai yang patut dianut dan diterapkan. Adanya koreksi diperlukan ketika disadari muncul sifat-sifat atau kebiasaan negatif pada anak. Sekolah interaktif secara proaktif mengkomunikasikan hal-hal semacam ini kepada keluarga dan secara bersama-sama melakukan upaya perbaikan dini.

Masyarakat

Kepemimpinan merupakan tanggung jawab yang melekat pada makhluk manusia. Rosulullah Saw bersabda:“ Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu akan ditanya tentang peran kepemimpinannya.” Tugas manusia sebagai khalifah (wakil) Allah di bumi mengisyaratkan betapa pentingnya bekal kepemimpinan.
Tidak ada pemimpin tanpa ada tempaan masyarakat, seperti halnya tidak ada ikan jika tidak ada air, membiarkan anak bergaul dengan teman sebaya ( feer group ) dapat dipandang dan dimanfaatkan sebagai proses pematangan jati diri dan kepemimpinan anak. Kemampuan menahan ego, kesiapan memikul tanggung jawab, berkontribusi kepada masyarakat, adalah sebagian dari bekal kepemimpinan.
Sekolah interaktif mengajak keluarga memberi modal percaya diri pada anak dan keyakinan yang teguh kepada Allah, diiringi doa yang tidak terputus. Sebab lingkungan masyarakat berada diluar pengaruh langsung sekolah dan keluarga, dan tidak selamanya dalam jangkauan pantauan dan pengawasan.

PILAR MADRASAH INTERAKTIF

Wahai orang yang beriman jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka. (QS.3:..)

Dalam meujudkan sekolah yang membahagiakan waktu dan ilmu telah memberi kami banyak pelajaran. Tersusunlah sebuah konsep pembelajaran sekolah membahagiakan yang merupakan integral dari pola asuh, pola pembelajaran, pola didik dan pola penanaman nilai yang kami rangkai dalam konsep 4M, yakni :
a. Menyenangkan
b. Mengasyikan
c. Mencerdaskan dan
d. Menguatkan karakter
Menyenangkan anak menyangkut pola asuh islami yang seimbang antara kasih saying dengan kedisiplinan, dalam hal ini penerimaan seluruh warga sekolah baik itu murid, guru, manajemen sekolah, penjaga sekolah dan orang tua merupakann modal sekolah sebagai tempat yang menyenangkan sehingga anak kecil kemungkinan tidak mengalami luka secara psikologis karena semua pihak dalam sekolah menjadi pihak yang ramah terhadap perkembangan psikologis anak. Mengasyikan, menjadikan anak terlibat dalam proses pembelajaran merasa terlibat dalam proses belajar karena apa yang mereka pelajari adalah sesuatu yang bisa mereka lakukan dan langsung merubah prilaku mereka inilah pembelajaran yang sesuai dengan konteks lingkungan, anak tidak melangit tanpa anak tahu hakikat dan apa yang harus mereka lakukan setelah belajar usai. Mencerdaskan, tidak ada kata bodoh pada sekolah ini yang terbangun adalah sekolah yang berpandangan seperti Nabi Khadir saat berkata kepada Musa : “wahai Musa aku mengetahui apa yang tidak engkau ketahui dan engkau Musa mengetahui apa yang tidak aku ketahui”,
Subhanallah tidak ada lagi anak yang tidak menerima dengan potensi dan keberadaan dirinya anak-anak dalam lingkungan seperti ini menjadi anak yang bersyukur dan bahagia dengan apa yang Allah berikan kepada mereka. Menguatkan karakter, salah satu hal yang perlu kita akui adalah bangsa ini tidak kurang ribuan sarjana tercetak setiap tahunnya dinegeri ini tapi lihat bagaiama karakter bangsa ini, tidak terlihat lagi sebagai bangsa yang bernilai hal ini terjadi karena terjebak dengan sistem pendidikan yang hanya menekankan aspek kognitif semata, dimanakah pengajaran karakter bangsa kita yang ramah, jujur, tanggung jawab, penuh senyum bisa kita wariskan untuk anak-anak penerus bangsa ini padahal hal inilah yang akan membentuk karakter bangsa kita.
Betul bahwa aspek kognitif adalah sesuatu yang penting bagi aspek pendidikan kita tapi manusia sebagai objek pendidikan tidak hanya diwakili oleh kognitifnya tapi juga afektif dan motoriknya maka penting bagi kita melihat manusia sebagai makhluk ciptaan Allah yang utuh dengan berbagai aspeknya sehingga pendidikan mampu melayani dan mengoptimalkan semua potensi tersebut melalui pendidikan yang tidak hanya berorientasi angka tapi juga pembentukan hatinya.

BEKALAN YANG KAMI USUNG
“ Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan Akhlaq”. (Alhadits)

Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang kami gunakan adalah “Kurikulum Holistik Berbasis Karakter Tauhid” yakni kurikulum utuh guna mengoptimalkan aspek akademik dan karakternya. Kurikulum yang berbasis pada penyiapan peserta didik untuk menghadapi masa depannya, melalui tema-tema yang dapat meningkatkan rasa ingin tahu anak dengan pendekatan pembelajaran berpusat pada anak serta problem solving sebagai salah satu jalan untuk menjadikan anak sebagai pembelajar sejati.
Kurikulum ini ditujukan untuk membentuk kualitas karakter yang mencirikan seorang pembelajar sejati (lifelong learner) yang mandiri, yakni:
1. Selalu ingin tahu dan bertanya (inquirer)
2. Berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinkers)
3. Berpengetahuan luas (knowledgeable)
4. Komunikator yang efektif (effective communicator)
5. Berani mengambil resiko (risk taker)

Karenanya secara umum bekalan materi yang kami berikan kepada peserta adalah :
1. Diniyyah sebagai basis nilai
2. Kurikulum diknas dengan pendekatan problem solving
3. Karakter Tauhiid
4. Life skill
5. Multiple intelegence

PRINSIP PEMBELAJARAN
MADRASAH INTERAKTIF

Adaptasi penerapan pendidikan Madrasah Interaktif dapat dilaksanakan dengan memperhatikan prinsip :
1. Pembelajaran memerlukan partisipasi aktif siswa (belajar aktif).
Menurut Benjamin Franklin : Tell me and I forget, teach me and remember, Involve me and I learn”. Untuk itulah keterlibatan aktif dari siswa merupakan jantung dalam sebuah proses belajar hal ini dikuatkan lagi dalam penelitian Bobby De Porter yang menemukan kita belajar 10 % dari yang kita baca, 20% dari apa yang kita dengar, 30% dari appa yang kita lihat, 50 % dari apa yang kita lihat dan kita dengar, 70% dari apa yang kita katakana dan 90% dari apa yang kita lakukan dan katakana.
Jelaslah bahwa semakin kita terlibat dalam suatu proses pembelajaran yang melibatkan banyak indera semakin lengkaplah pembelajaran yang kita laksanakan.dengan demikian pembelajaran holistik yang mengubah paradigma yang bersifat parsial kepada aspek yang menyeluruh m enjadikan pembelajaran lebih bermakna, sehingga insting kecintaan kita terhadap belajar yang disinyalir berasal dari kesalahan-kesalahan dalam metotivasi belajar baik dari guru dan orang tua, seperti: (1) suasana belajar yang tidak mendukung, berupa hilangnya keterlibatan seluruh dimensi manusia untuk bereksplorasi, belajar sambil bermain yang menyenangkan telah hilang oleh system pendidikan di rumah dan disekolah.(2) Pelajaran yang disajikan kepada siswa seolah-olah hanya disajikan untuk menghadapi tes, ujian dan latihan (drilling) sehingga kebanyakan siswa tidak mengerti akan subjek yang dipelajari mengapa mata pelajran itu penting dipelajari, dan manfaatnya dalam kehidupannya.(3) terllau menstandarkn penilaian ada aspek akdemik dengan nilai angka dan ranking, bukan kepada aproses pembelajaran yang mengakibatkan beban yang berlebihan terhadap anak padahal hal terpenting dalam pembelajaran adalah bagaimana membentuk anak agar senang dan termotivasi untuk terus belajar (mencipatakan pembelejar sejati-lifelong learners). Untuk itu perlu dilakukan pembelajaran yang dapat menjadikan anak terlibat dalam pembelajaran dan pendekatan konstruktivisme adalah dasar da prinsip pendekatan belajar saat ini yang dipandang mampu melibatkan anak.
2. Setiap anak belajar dengan kecepatan berbeda
Dalam kasus ini maka Gardner lah yang memberi kita keluasan pandangan mengenai arti sebuah kecerdasan ia merumuskan 9 kecerdasan yang membuat anak kita memiliki kemampuan yang selama ini kita peandang sempit sebagai kemampuan akademik semata. Menurut Gardner:
• Kesemua manusia memiliki kesembilan aspek kecerdasan ini dengan kadar yang berbeda
• Setiap manusia memiliki komposisi kecerdasan yang berbeda
• Seluruh aspek kecerdasan ini berada pada bagian otak yang berbda yang dapat bekerja secara mandiri atau secara bersamaan.
Karena itu banyak pilihan kegiatan yang dapat dikembangan untuk melatih kecerdasan majemuk/ganda ini, diantaranya saja:
• Diskusi kelompok-verbal bahsa, Interpersonal
• Menulis jurnal, buku harian- Intra personal, bahasa-verbal.
• Koreografi-Musik, Verbal-bahasa, Interpersonal, Kinestetik.
• Membuat Grafik- Logis Matematik, Visual-spasial
• Menyususn scenario dan membuat drama- Verbal-bahasa, Interpersonal, Visual-Spasial
• Menulis laporan dan mengarang-verbal Bahasa
• Membuat Poster-Verbal-bahasa, visual spasial
• Belajar dengan objek konkrit-kinestetik, logis-matematik
• Mengarang Lagu-Musik, verbal bahasa
• Membuat model/miniataur bangunan-kinestetik, logis matematis.
3. Anak-anak dapat belajar dengan efektif bila dalam suasana kondusif
Adapun ciri-ciri kelas yang kondusif sehingga membuat para pembelajar memiliki motivasi belajar yang tinggi, berani mencoba (risk taker), dan menjadi pembelajar yang sejati adalah:
• Adanya pembelajaran karakter secara eksplisit
• Adanya aturan dan kode etik yang dibuat dengan melibatkan semua pihak didalam kelas dan dipatuhi dengan baik.
• Hubungan natar siswa saling mendukung, tidak terjadi persaingan yang tidak sehat
• Adanya rasa saling percaya dan saling menghormati anta siswa da guru. Guru menghormati dan memperlakukan siswa sara baik
• Guru berusaha mengenal siswa secara pribadi dan mengetahui keunikan masing-masing siswa
• Guru bertindak sebagi fasilitator yang memberikan peluang insiatif bagi sisw dan memotivasi agar tertarik pada materi
• Guru menyiapakan perencanaan belajar agar dapat menstimulasi seluruh dimensi perkembangan siswa
• Setiap siswa haruas merasa keberadaanya diterima dan dihargai.
• Setiap siswa merasa telibat dalam pengambilan keputusan dan berpartispasi aktif dalam proses belajar.
• Adanya kesempatan belajar dalam kelompok sehingga ada kesempatan untuk berinteraksi secara positif
• Iklim belajar yang menyenangkan tidak ada tekanan, dan beban yang berlebihan.
• Iklim belajar yang memberikan peluang melakukan kesalahan sebagai bagian alami dalam proses belajar sehingga para siswa menjadi risk taker, dan mempunyai motivasi untuk mempelajari hal baru dan yang sulit.

Pendidikan Karakter
Sebuah Pilihan Pembelajaran

“Di dalam tubuh kita ada segumpal darah, apabila baik maka baiklah seluruhnya, dan jika buruk maka buruklah seluruhnya.”
Hadits Sahih

Pendidikan karakter mempunyai makna lebih tinggi dari pendidikan moral, karena bukan sekedar mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah, lebih dari itu pendidikan karakter menanamkan kebiasaan (habituation) tentang hal yang baik sehingga siswa didik menjadi faham (domein kognitif) tentang mana yang baik dan salah, mampu merasakan (domein afektif) nilai yang baik dan mau melakukannya (domein psikomotor). Seperti kata Aristoteles, karakter itu erat kaitannya dengan “habit” atau kebiasaan yang terus menerus dipraktekkan dan dilakukan.
Akar kata “karakter” dapat dilacak dari kata Latin “kharakter”, “kharassein”, dan “kharax”, yang maknanya “tools for marking”, “to engrave”, dan “pointed stake”. Kata ini mulai banyak digunakan (kembali) dalam bahasa Prancis “caractere” pada abad ke-14 dan kemudian masuk dalam bahasa Inggris menjadi “character”, sebelum akhirnya menjadi bahasa Indonesia “karakter”.
Dalam Kamus Poerwadarminta, karakter diartikan sebagai tabiat; watak; sifat-sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang daripada yang lain.
Menurut Wynne (1991) kata karakter berasal dari Bahasa Yunani yang berarti “to mark” (menandai) dan memfokuskan pada bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah laku. Oleh sebab itu seseorang yang berperilaku tidak jujur, kejam atau rakus dikatakan sebagai orang yang berkaraktek jelek, sementara orang yang berperilaku jujur, suka menolong dikatakan sebagai orang yang berkarakter mulia. Jadi istilah karakter erat kaitannya dengan personality (kepribadian) seseorang, dimana seseorang bisa disebut orang yang berkarakter (a person of character) jika tingkah lakunya sesuai dengan kaidah nilai.
Berkowitz (1998) menyatakan bahwa kebiasaan berbuat baik tidak selalu menjamin bahwa manusia yang telah terbiasa tersebut secara sadar (cognition) menghargai pentingnya nilai karakter (valuing). Karena mungkin saja perbuatannya tersebut dilandasi oleh rasa takut untuk berbuat salah, bukan karena tingginya penghargaan akan nilai itu. Misalnya saja ketika seseorang berbuat jujur hal itu dilakukannya karena ia takut dinilai oleh orang lain, bukan karena keinginannya yang tulus untuk menghargai nilai kejujuran itu sendiri. Oleh sebab itu dalam pendidikan karakter diperlukan juga aspek perasaan (domein affection atau emosi). Memakai istilah Lickona (1992) komponen ini dalam pendidikan karakter disebut “desiring the good” atau keinginan utnuk berbuat kebaikan. Menurut Lickona pendidikan karakter yang baik dengan demikian harus melibatkan bukan saja aspek “knowing the good” (moral knowing), tetapi juga “desiring the good” atau “loving the good” (moral feeling) dan “acting the good” (moral action). Tanpa itu semua manusia akan sama seperti robot yang terindoktrinasi oleh sesuatu paham.

Karakter dan Keberhasilan Akademik
Dalam bukunya yang membahas tentang kecerdasan emosi atau Emotional Intelligence, Daniel Goleman (1995) mengungkapkan pentingnya kemampuan untuk menguasai emosi (kecerdasan emosi) sebagai penentu keberhasilan akademik anak, melebihi kemampuan intelektual (Intellectual Quotient=IQ) yang selama ini diakui berhubungan nyata dengan prestasi akademik siswa. Bahkan Goleman menyatakan bahwa 80 persen kesuksesan seseorang ditentukan oleh kecerdasan emosinya (Emotional Quotient=EQ), sementara hanya 20 persen ditentukan oleh IQ-nya.
Menurut Dorothy Rich (1997) terdapat nilai (values), kemampuan (abilities) dan mesin dalam tubuh (inner engines) yang dapat dipelajari oleh anak dan berperanan amat penting untuk mencapai kesuksesan di sekolah dan di masa mendatang. Hal ini ia percaya dapat dipelajari dan diajarkan oleh orangtua maupun sekolah yang dinamakannya Mega skills, meliputi :
1. percaya diri (confidence);
2. motivasi (motivation);
3. usaha (effort);
4. tanggungjawab (responsibility),
5. inisiatif (initiative),
6. kemauan kuat (perseverence),
7. kasih sayang (caring),
8. kerjasama (team work),
9. berpikir logis (common sense),
10. kemampuan pemecahan masalah (problem solving), serta
11. berkonsentrasi pada tujuan (focus).
Dilaporkan oleh Chicago Tribune dalam Megawangi (2002) bahwa US Departement of Health and Human Services menyebutkan beberapa faktor resiko tentang kegagalan sekolah pada anak. Faktor resiko tersebut bukan pada kemampuan kognitif anak melainkan pada kemampuan psikososial anak, terutama kecerdasan emosi dan sosialnya yang meliputi:
1. percaya diri (confidence),
2. kemampuan kontrol diri (self-control),
3. kemampuan bekerjasama (cooperation),
4. kemudahan bergaul dengan sesamanya (socializaation),
5. kemampuan berkonsentrasi (concentration),
6. rasa empati (empathy) dan
7. kemampuan berkomunikasi (comunication).

Nilai-Nilai Karakter Yang Kami Kembangkan

Syarat amal saleh ada dua ikhlash dan mencontoh Rasul (Fudlail bin Iyadh)

Karakter yang kami harapkan adalah karakter etik sebagai dasar dari keberhasilan yang pada intinya terdiri atas tiga karakter pokok yakni, karakter citra diri positif, karakter pembelajaran, dan karakter sosial. Kesemua karakter ini merupakan bahagian kecil dari karakter generasi holistik (Generasi Tauhiid) yang menjadikan muara dalam amal adalah Allah SWT (ikhlash) semata sebagai jalan bersyukur kepadaNya.
Ketiga karakter pokok tadi selanjutnya kami turunkan menjadi targetan karakter pada setiap kelas sebagai iklim pembelajaran yang dibangun dikelas-kelas. Untuk menguatkan iklim yang dibangun disusun pula 5 karakter pilar tauhid sebagai penguat yang menjadi dasar pembelajaran MIMHa.
Lima Karakter tauhid yang dikembangkan di MIMHa terdiri dari:
1. Ikhlash
2. Jujur
3. Adil
4. Tanggung Jawab
5. Santun

Cirikhas Pendidikan
1. Layanan Pendidikan PRIMA
Melaksanakan pembelajaran secara efektif dengan kurikulum yang terintegrasi dengan nilai-nilai islam serta berbasis e-learning. Program ini dilaksanakan melalui program:
• 1 kelas 30 anak
• Program Matrikulasi (Alquran, dan kemampuan IT)
• Pembuatan silabus yang mengintegrasikan muatan islam
• Pengayaan dan Remedial
• Arabic and English day
• Pembinaan siswa berbakat ( MIPA )
• Program penelusuran minat IT
2. Program Al Quran
Alquran bagi kami bukanlah program pelengkap tapi merupakan program tujuan guna membekali anak-anak dengan nilai ilahiyah melalui :
• Pemahaman Alquran 30 Juz setiap bada dzuhur 30 menit di masjid. Dan penguasaan Terjemah Quran
• Halaqah Quran, meliputi:
 Tilawah Qur’an ( pemantauan tilawah lewat SKU )
 Murajaah / setoran hafalan
 Pembinaan kepribadian islam
3. Karakter Tauhiid
Mengembangkan dan membina potensi siswa dalam bidang penguatan visi dan misi hidup
• Pembiasaan karakter setiap pagi 20 menit
• Supercamp
• Materi carachter Building
4. Program Teknologi Informatika
Program informasi dan teknologi di MTS Informatika MIMHa adalah program pembiasaan teknologi IT dalam pembelajaran sehari-hari dengan target keterampilan:

Hardwere : Merakit pc dan instalasi
Softwere : Open Office, Ms Office, Desain Grafis, Dasar pemrograman Web, Multimedia
Internet : Blog dan web


10 thoughts on “MTs/SMP INFORMATIKA MIMHa

    riripunyakisah said:
    19 Januari 2010 pukul 14:52 pm01

    woww….interesting

      Agus Awaludin responded:
      20 Januari 2010 pukul 14:52 am01

      Semoga jadi jalan kebaikan untuk semua

    nenden said:
    19 Juni 2011 pukul 14:52 am06

    assalamua’laikum….mau nanya kalau biaya tiap tahun nya berubah ? saya ingin mengetahuinya karena anak saya tahun ini baru ke kelas V . jadi untuk persiapan biaya nanti kalau mau masuk ke sini terimakasih wassalam…………

      Agus Awaludin responded:
      20 Juni 2011 pukul 14:52 am06

      di MTS biaya awal masuk sampai dengan kelas 3 tetap. untuk kenaikan tahun depan diprediksi tidak signifikan kurang lebih 10% insyaAllah

    anefarisusanti said:
    13 Oktober 2011 pukul 14:52 am10

    maaf, boleh tanya dulu pa, gmn hail kelulusan MTs MIMHa dari tahun ke tahun? trus utk tahun dpn kira2 brp biaya utk daftar MTs MIMHa ini?
    terimakasih

      Agus Awaludin responded:
      21 Oktober 2011 pukul 14:52 am10

      MTs Informatika MIMHa saat ini baru angkatan ke dua bu, jadi baru ada kelas 8. Jumlah siswa kelas 8 sebanyak 10 0rang, kelas 7 berjumlah 24 orang. Untuk program IT, Bahasa inggris, Alquran sesuai dengan rencana Alhamdulillah. Untuk ekstrakurikuler sedang dalam dirintisan untuk biaya tahun ini masih dengan tahun kemarin. InsyaAllah

    Nani Mulyani said:
    13 Februari 2012 pukul 14:52 pm02

    Ingin punya anak. Seperti misi mimha, anaak sy pendiam disekolah suka di boikot temannya,sehingga dia tdk nyaman belajar dan tdk betah, ingin anak sy sekolah di lingkungan yg mengerti anak sy, baik ke anak sy, menyenangkan anak, sehingga dia nyaaman, berkembang

    Nani Mulyani said:
    13 Februari 2012 pukul 14:52 pm02

    Brp biayanya? Mksh

    effi rusianti said:
    1 Agustus 2012 pukul 14:52 am08

    aslkm apakah mts mimha menerima siswa pindahan utk kls 8 angkata 2012-2013?jzklh khair

      Agus Awaludin responded:
      26 Agustus 2012 pukul 14:52 pm08

      Bismillahirrahmaanirrahiim, untuk siswa pindahan SMP kelas 8 masih ada bisa daftar langsung ke MIMHa sekaligus untuk melihat langsung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s