PENGEMBANGAN DOKUMEN KURIKULUM BERBASIS KOMPETENSI DI SEKOLAH DASAR BERDASARKAN NEED ANALYSIS

Posted on

Agus Awaludin
Prodi Pengembangan Kurikulum
Sekolah Pasca Sarjana UPI Bandung

Abstract:
Human With diverse potential requires empowerment process called education. Stage of elementary school are more strategic in the stages of education because at this time there is a golden age that only happens once in a lifetime of student. There are three important elements in the educational process that is management of education, mentoring students and curriculum. of the three elements, curriculum has a very central role in all educational activities because it will determine the process and outcomes of education. In curriculum development aimed at realizing human potential as a competence that is seen in action then called concept of competency-based curriculum. Being a new view in the preparation of this curriculum is competency-based curriculum that fits your needs. at this domain, need analysis is required in the development of competency-based curriculum documents. Syllabus and lesson plans as a continuation of competency-based curriculum document is spearheading the leading to address the needs as seen in the need analysis is arranged so that the curriculum really be the answer to the needs and primacy with to be weighing the potential benefits and demands of society.

Key words : Competency-based curriculum, Elementary school, Need analysis

A. PENDAHULUAN
Manusia sebagai makhluk ciptaan Allah SWT, pada mulanya terlahir dalam keadaan tidak mengetahui dan tidak berdaya namun Allah memberikan mereka bekal berupa mata, telinga dan hati agar mereka menjadi pribadi yang mampu mengoptimalkan potensinya, dalam terminologi Alquran kemampuan manusia mengoptimalkan potensinya dengan menggunakan sarana mata, telinga dan hati sebagai alat belajar dikatakan sebagai sikap syukur manusia (QS. 16:78).
Menurut Sudrajat potensi manusia adalah kompetensi yang masih terpendam. Konsekuensinya manusia membutuhkan serangkaian proses yang sistematis dan sistematik untuk mentransformasikan potensi menjadi kompetensi, proses inilah yang kita sebut sebagai pendidikan itulah mengapa proses pendidikan disebut sebagai student empowerment (Sudrajat, 2011:23-24).
Pendidikan sebagai empowerment hendaknya memperhatikan efektifitas dan efisiensi proses yang dilakukannya agar tujuan kompetensi mampu tercapai. Kedua hal tersebut dapat diukur malalui unsur-unsur yag mempengaruhi proses pendidikan. Terdapat tiga unsur penting dalam proses pendidikan, yakni pengelolaan pendidikan, pembimbingan peserta didik dan kurikulum. Dari ketiga unsur tersebut kurikulum mempunyai peranan yang sangat penting bahkan dikatakan sebagai sentral dalam seluruh kegiatan pendidikan karena akan sangat menentukan proses dan hasil pendidikan (Sukmadinata, 2008:38).

B. KBK DI SEKOLAH DASAR
Perwujudan kurikulum berbasis kompetensi (KBK) di Indonesia dikenal pada tahun 2006 sebagai Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Penyusunan KTSP merupakan pendekatan baru dalam kewenangan penyusunan kurikulum yang berisifat terpusat diawalnya menjadi bersifat mandiri.
Dalam penerapan kurikulum berbasis kompetensi di sekolah dasar, sekolah diberi kewenangan untuk menyusun kurikulum sesuai dengan kondisi, potensi dan kebutuhan satuan pendidikan di lapangan. Hal ini memungkinkan sekolah dapat menyusun kurikulum secara mandiri dengan melibatkan berbagai pihak (stakeholders) guna menjawab kebutuhan, tuntutan dan keunggulan yang khas pada masing-masing satuan pendidikan dengan mempertimbangkan potensi dan tuntutan masyarakat sebagai pengguna layanan pendidikan dimana satuan pendidikan tersebut berlokasi.

C. PERLUNYA NEED ANALYSIS DALAM PENGEMBANGAN KBK DI SEKOLAH DASAR
Dalam pengembangan kurikulum berbasis kompensi di sekolah dasar terdapat tahapan yang perlu diperhatikan para pengembang kurikulum yakni tahapan analisis kebutuhan (need analysis) sebagai salah satu bahan dasar penyusunan kurikulum.
Untuk lebih jelasnya dapat melihat gambar alur penyusunan kurikulum sebagai berikut:

Gambar 1. Alur Pengembangan Kurikulum

Tahap awal dalam pengembangan kurikulum berdasarkan gambar 1 diatas adalah tahapan penetapan profil lulusan sebagai hasil pendidikan (out come). Profil lulusan yang dimaksud adalah profil siswa lulusan sebagai perpaduan analisis potensi kekuatan yang dimiliki sekolah dan analisis kebutuhan (need analysis) masyarakat. Profil lulusan yang dikehendaki tersebut selanjutnya akan diwujudkan melalui proses pendidikan di sekolah.
Keberadaan need analysis dalam pengembangan kurikulum khususnya sekolah dasar ditujukan untuk menjawab tantangan pengembangan kurikulum, diantaranya:
1. Seberapa besar tingkat efektifitas pengembangan kurikulum dapat memenuhi kebutuhan siswa (need of learners), kebutuhan masyarakat (need of society) dan kebutuhan mata pelajaran (need of subject matters) sebagai orientasi dalam pengembangan kurikulum di sekolah dasar.
2. Seberapa lebar gap yang muncul antara profil lulusan yang diharapkan (das sollen) dan profil lulusan yang nampak (das sein) pada tingkat sekolah dasar, dan
3. Banyaknya kekurangan yang mungkin muncul dalam proses pendidikan di sekolah khususnya sekolah dasar agar dapat diperbaiki.
Proses need analysis setidaknya dilakukan dalam tiga tahapan, sehingga diperoleh data sebagai informasi untuk pihak-pihak yang terlibat dalam need anlysis. Tiga tahapan tersebut yakni:
Tahap pertama, tahap perencanaan need analysis meliputi cara, instrumen yang akan digunakan dan sampel yang akan dimintai data. Tahap kedua, adalah tahap bagaimana pelaksanaan memperoleh informasi melalui implementasi rencana need analysis yang telah dilakukan. Dan tahap ketiga, adalah tahap menggunakan data yang diperoleh sebagai informasi yang dibutuhkan.
Secara lebih rinci pelaksanaan needanalysis menurut Glasgow (dalam Sanjaya, 92: 2010) terdiri atas 7 (tujuh) langkah, yakni:
1. Pengumpulan informasi
2. Identifikasi kesenjangan
3. Analysis performance
4. Identifikasi hambatan dan sumber
5. Identifikasi karakteristik siswa
6. Identifikasi prioritas dan tujuan
7. Merumuskan masalah
Berbicara tentang pihak-pihak yang dimunginkan terlibat dalam kegiatan need analysis Mahfudin (2010:12) menyebutkan ada empat kategori, yakni:
1. Kelompok target (target group), berkenaan dari siapa sumber informasi diperoleh biasanya berasal dari siswa, guru-guru, dan administrator.
2. Pendengar (audience), berkaitan dengan orang yang akan diberikan perlakuan analysis. Kelompok ini biasanya terdiri dari para guru, guru bantu, administrator dan pihak-pihak yang terlibat dalam sekolah.
3. Penganalisa kebutuhan adalah semua pihak yang bertanggung jawab dalam kegiatan need analysis yang dilakukan misalnya saja para konsultan.
4. Sumber kelompok (resource group), semua pihak yang bertindak sebagai sumber informasi mengenai target group, seperti orang tua, sponsor keuangan atau wali kelas.
Berbagai instrumen dapat digunakan oleh penanggung jawab dan pelaksana need analysis dalam melakukan kegiatannya, antara lain: instrumen berupa angket, wawancara, tes, observasi dan pertemuan. Dalam penggunaan instrumen tadi henakanya instrumen disusun dengan memperhatikan tingkat reliabilitas (konsistensi dalam memperoleh informasi), validitas (keterpercayaan alat ukur sehingga mengukur sesuai dengan apa yang diukur) dan usabilitas (kebergunaan praktis). Sedangkan prinsip-prinsip yang biasanya mempengaruhi suatu need analysis antara lain (1) prinsip ketidak sesuaian, yakni adanya ketidak sesuaian atau antara domain das solen dan das sein dalam hal ini berupa ketidak sesuaian antara out come yang diharapkan dan out come yang ada sehingga diperoleh informasi kebutuhan yang diperlukan. (2) prinsip keumuman, yakni prinsip mengenai hal umum atau kebanyakan kegiatan apa yang dibutuhkan atau terjadi dilapangan sehingga hal tersebut dapat menjadi acuan kebutuhan yang diperlukan.

D. TAHAPAN PENYUSUN DOKUMEN KURIKULUM BERBASIS NEED ANALYSIS
Dalam penyusunan dokumen kurikulum berbasis kompetensi di tingkat pendidikan dasar, tim pengembang kurikulum tingkat sekolah dasar dapat melakukan tahapan-tahap pengembangan kurikulum sebagai berikut:

Tahapan Pihak-pihak yang terlibat Hasil
1. Need Analysis Tim pengembang kurikulum tingkat sekolah Profil lulusan yang dikehendaki
2. Perencanaan • Guru kelas
• Tim Pengembang Kurikulum sekolah
• Pengawas
• Ahli
• Komite sekolah • Dokumen vis, misi, struktur, beban belajar, dan kalender akademik
• Program tahunan dan program semester
• Silabus
• RPP
• Sumber dan media belajar
• Model pembelajaran
• Evaluasi
3. Validasi • Ahli terkait
• Pengawas Dokumen KTSP tervalidasi
4. Diseminasi • Guru terkait
• Ahli
• Pengawas Pelatihan guru dan lokakarya
5. Implementasi • Guru
• Siswa Proses KBM di kelas
6. Evaluasi dan revisi • Pengawas
• Tim Pengembang Kurikulum
• Guru kelas
• Ahli
• Komite Sekolah Revisi dokumen KTSP seperti dalam perencanaan

Gambar 2. Tahapan pengembangan kurikulum di sekolah dasar

E. SILABUS BERBASIS NEED ANALYSIS
Secara sederhana silabus dapat dimaknai sebagai perangkat rencana pembelajaran sebagai penjabaran dari standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam materi, langkah pembelajaran dan indikator sebagi ukuran ketercapaian dalam evaluasi. Menurut Erliany (2010:22) suatu silabus pada intinya terdiri atas tiga komponen, yakni (1) standar kompetensi dan kompetensi dasar sebagai sesuatu yang ingin ditanamkan kepada siswa sebagai tujuan khusus pembelajaran. (2) Pengalaman belajar sebagai kegiatan yang dipilih untuk dilakukan dalam upaya menanmkan kompetensi yang dikehendaki dimiliki siswa. (3) kegiatan evaluasi untuk mengetahui ketercapaian kompetensi yang telah direncanakan untuk ditanamkan kepada siswa.
Pengalaman belajar yang direncanakan dalam silabus sejatinya ditujukan dalam pengembangan seluruh unsur potensi manusia, yakni unsur intelektual, unsur spiritual, unsur raga dan unsur rasa manusia. Atau dalam terminologi Bloom mencakup unsur: (1) afeksi mencakup sikap menerima, menilai, mengorganisasi dan pembentukan watak. (2) kognitif yang tergambar dalam pengetahuan, pemahaman, aplikasi, evaluasi, analisis dan kreatifitas dan (3) psikomotor siswa, yang dapat dilihat dari sisi kemampuan meniru, menyusun dan kemampuan melakukan sesuatu.
Dalam penyusunan silabus ada prinsip-prinsip yang perlu diperhatikan (BNSP, 2006: 14), yaitu
1. Ilmiah, artinya keseluruhan materi dan kegiatan yang menjadi muatan dalam silabus harus benar dan dapat dipertanggungjawabkan secara keilmuan.
2. Relevan, maksudnya cakupan, kedalaman, tingkat kesukaran, dan urutan penyajian materi dalam silabus sesuai dengan tingkat perkembangan fisik, intelektual, sosial, emosional, dan spiritual peserta didik.
3. Sistematis, prinsip ini bermakna komponen-komponen silabus saling berhubungan secara fungsional dalam mencapai kompetensi.
4. Konsisten, memiliki makna adanya hubungan yang konsisten (ajeg, taat asas) antara kompetensi dasar, indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian.
5. Memadai, cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian cukup untuk menunjang pencapaian kompetensi dasar.
6. Aktual dan Kontekstual, Cakupan indikator, materi pokok, pengalaman belajar, sumber belajar, dan sistem penilaian memperhatikan perkembangan ilmu, teknologi, dan seni mutahir dalam kehidupan nyata dan peristiwa yang terjadi.
7. Fleksibel, Keseluruhan komponen silabus dapat mengakomodasikan keragaman peserta didik, pendidik, serta dinamika perubahan yang terjadi di sekolah dan tuntutan masyarakat.
8. Menyeluruh, Komponen silabus mencakup keseluruhan ranah kompetensi (kognitif, afektif, psikomotor).
Dalam pengembangan silabus dilakukan langkah-langkah yakni perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, revisi dan pengembangan yang kontinyu. (1) Pada tahap perencanaan meliputi pengumpulan informasi dan sumber lain yang diperlukan penyusunan silabus. (2) tahap pelaksanaan, di tahap ini dilakukan pengisian bagian-bagian dari silabus seperti identitas silabus, SK-KD, indikator, materi, pengembangan pengalaman belajar, penilaian, alokasi waktu, pemilihan dan penetapan sumber belajar. (3) penilaian, tahapan ini untuk mengukur efektifitas dan efisiensi pencapaian kompetensi dasar. (4) Tahap revisi, yakni tahapan perbaikan berkelanjutan dalam perencanaan silabus. (5) pengembangan kontinyu, merupakan tahapan perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan revisi secara terus menerus.
Hal yang menjadi penting dalam penyusunan silabus adalah memperhatikan unsur analisis kebutuhan (need anlysis) sehingga didapatkan rencana silabus yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat dengan memeperhatikan kondisi siswa, kemampuan sekolah, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dan kondisi masyarakat.

F. RPP (Lesson Plan) BERBASIS NEED ANALYSIS
RPP (Lesson Plan) adalah rencana terstruktur berkaitan desain pengalaman pembelajaran yang akan dilaksanakan sebagai penjabaran dari silabus guna mencapai kompetensi dasar yang telah ditetapkan. Setidaknya ada tiga hal yang perlu dilakukan dalam penyusunan lesson plan, yakni (1) tahap perencanaan, (2) tahap implementasi dan (3) tahap evalausi lesson plan.
Dalam tahap awal perencanaan, langkah yang dilakukan (dokumen standar proses) adalah:

1. Menuliskan Identitas Mata Pelajaran, yang meliputi:
a. Satuan Pendidikan;
b. Kelas/Semester;
c. Mata Pelajaran/Tema Pelajaran;
d. Jumlah Pertemuan.

2. Menuliskan Standar Kompetensi
Standar kompetensi merupakan kualifikasi kemampuan minimal peserta didik yang menggambarkan penguasaan pengetahuan, sikap, dan keterampilan yang diharapkan dicapai pada setiap kelas dan/atau semester pada suatu mata pelajaran. Pada bagian ini dituliskan standar kompetensi mata pelajaran, cukup dengan cara mengutip pada standar isi atau silabus pembelajaran yang telah dibuat guru.

3. Menuliskan Kompetensi Dasar
Kompetensi dasar adalah sejumlah kemampuan yang harus dikuasai peserta didik dalam mata pelajaran tertentu sebagai rujukan penyusunan indikator kompetensi dalam suatu mata pelajaran. Pada bagian ini dituliskan kompetensi dasar yang harus dimiliki peserta didik setelah proses pembelajaran berakhir, cukup dengan cara mengutip pada standar isi atau silabus pembelajaran yang telah dibuat guru.

4. Menuliskan Indikator Pencapaian Kompetensi
Indikator kompetensi adalah perilaku yang dapat diukur dan/atau diobservasi untuk menunjukkan ketercapaian kompetensi dasar tertentu yang menjadi acuan penilaian mata pelajaran. Indikator pencapaian kompetensi dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diamati dan diukur, yang mencakup pengetahuan, sikap, dan keterampilan. Contoh kata kerja operasional antara lain mengidentifikasi, menghitung, membedakan, menyimpulkan, menceritakan kembali, mempraktekkan, mendemonstrasikan, dan mendeskripsikan.
Indikator pencapaian hasil belajar dikembangkan oleh guru dengan memperhatikan perkembangan dan kemampuan setiap peserta didik. Setiap kompetensi dasar dapat dikembangkan menjadi dua atau lebih indikator pencapaian hasil belajar dan disesuaikan dengan keluasan dan kedalaman kompetensi dasar tersebut.
Indikator dikembangkan oleh guru sekolah sesuai dengan kondisi daerah dan sekolah masing-masing. Dalam membuat indikator ini, guru juga perlu melihat KD yang sama di kelas sebelum dan sesudahnya agar lebih tepat dalam menentukan indikator sesuai dengan kelas di mana KD tersebut diajarkan.

5. Merumuskan Tujuan Pembelajaran
Tujuan pembelajaran menggambarkan proses dan hasil belajar yang diharapkan dicapai oleh peserta didik sesuai dengan kompetensi dasar. Tujuan pembelajaran dibuat berdasarkan SK, KD, dan Indikator yang telah ditentukan. Tujuan ini difokuskan tergantung pada indikator yang dirumuskan dari SK dan KD pada Standar Isi mata pelajaran matematika yang akan dipelajari siswa.

6. Materi Ajar
Materi ajar memuat fakta, konsep, prinsip, dan prosedur yang relevan, dan ditulis dalam bentuk butir-butir sesuai dengan rumusan indikator pencapaian kompetensi.

7. Menuliskan Materi Prasyarat
Materi Prasyarat ini merupakan materi atau kompetensi yang harus sudah dimiliki atau dikuasai siswa yang berkaitan dengan materi atau kompetensi yang akan dipelajari. Dalam pembelajaran matematika, materi prasyarat ini sangat perlu, karena dalam pembelajaran matematika antara materi satu dengan yang lain saling berkaitan satu sama lain. Pada proses pembelajaran, kompetensi ini dapat diukur melalui kegiatan pendahuluan.

8. Alokasi Waktu
Alokasi waktu ditentukan sesuai dengan keperluan untuk pencapaian KD dan beban belajar.

9. Menentukan metode pembelajaran yang akan digunakan
Metode pembelajaran digunakan oleh guru untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik mencapai kompetensi dasar atau seperangkat indikator yang telah.
Ditetapkan. Pemilihan metode pembelajaran disesuaikan dengan situasi dan kondisi peserta didik serta karakteristik dari setiap indikator dan kompetensi yang hendak dicapai pada setiap mata pelajaran. Pada bagian ini dituliskan semua metode yang akan digunakan selama proses pembelajaran berlangsung.

10. Merumuskan kegiatan pembelajaran
a. Pendahuluan
Pendahuluan merupakan kegiatan awal dalam suatu pertemuan pembelajaran yang ditujukan untuk membangkitkan motivasi dan memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam proses pembelajaran. Pada pendahuluan ini secara garis besar dapat memuat hal-hal sebagai berikut.

1) Deskripsi singkat;
Deskripsi singkat adalah penjelasan singkat (secara global) tentang isi pelajaran yang berhubungan dengan kompetensi yang diharapkan. Hal ini dimaksudkan agar pada permulaan kegiatan belajarnya, siswa telah mendapat jawaban secara global tentang isi pelajaran yang akan dipelajari.

2) Relevansi;
Relevansi adalah kaitan isi pelajaran yang sedang dipelajari dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa atau dengan pekerjaan yang dilakukannya sehari-hari. Dalam hal ini dapat juga dengan mengingatkan kembali materi prasyarat (apersepsi).

3) Tujuan/kompetensi;
Tujuan adalah kemampuan atau kompetensi yang akan dicapai siswa pada akhir proses belajarnya.

4) Penjelasan tentang pembagian kelompok dan cara belajar.

b. Inti
Kegiatan inti merupakan proses pembelajaran untuk mencapai KD. Kegiatan pembelajaran dilakukan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreativitas, dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat, dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik. Kegiatan inti ini dilakukan secara sistematis dan sistemik melalui proses eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Pada kegiatan inti ini siswa mendapat fasilitas atau bantuan untuk mengembangkan potensinya secara optimal. Pada kegiatan inti secara garis besar berlangsung hal-hal berikut.

1) Memulai pembelajaran dengan mengajukan masalah (soal) yang nyata (riil) bagi siswa sesuai dengan pengalaman dan tingkat pengetahuannya, sehingga siswa segera terlibat dalampelajaran secara bermakna;
2) Permasalahan yang diberikan tentu harus diarahkan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam pembelajaran;
3) Siswa mengembangkan model-model simbolik secara informal terhadap persoalan/masalah yang diajukan;
4) Pembelajaran berlangsung secara interaktif, dimana siswa menjelaskan dan memberikan alasan terhadap jawaban yang diberikannya, memahami jawaban temannya (siswa lain), menyatakan setuju atau ketidaksetujuannya, dan mencari alternatif yang lain.

c. Penutup
Penutup merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas pembelajaran yang dapat dilakukan dalam bentuk rangkuman atau kesimpulan, penilaian dan refleksi, umpan balik, dan tindak lanjut, yaitu seperti berikut.
1) Penarikan kesimpulan dari apa-apa yang telah dipelajari dalam pembelajaran sesuai tujuan yang akan dicapai;
2) Melakukan refleksi terhadap setiap langkah yang ditempuh atau terhadap hasil pembelajaran;
3) Pemberian tugas atau latihan.

11. Penilaian Hasil Belajar
Prosedur dan instrumen penilaian proses dan hasil belajar disesuaikan dengan indikator pencapaian kompetensi dan mengacu kepada standar penilaian.

12. Menentukan Media/Alat/Bahan/Sumber Belajar
Penentuan sumber belajar didasarkan pada standar kompetensi dan kompetensi dasar, serta materi ajar, kegiatan pembelajaran, dan indikator pencapaian kompetensi. Pada bagian ini dituliskan semua media/alat/bahan/sumber belajar yang digunakan selama proses pembelajaran berlangsung.
Hal yang penting dalam perencanaan pembelajaran adalah perencanaan pembelajaran (lesson plan) yang di buat hendaknya dilakukan dengan berdasarkan silabus yang telah didahului dengan kajian analisis kebutuhan. Agar analisis kebutuhan lebih spesifik Lesson Plan adalah bagian yang penting untuk mensfesifikanjawaban dari analisis kebutuhan yang di susun. Tahap kedua, yakni tahap implementasi dan tahap ketiga, berkaitan dengan evalausi perencanaan pengajaran menjadi siklus untuk memastikan ketercapaian atas need analysis yang telah dilakukan melalui pembelajaran dikelas.

G. KESIMPULAN
Pendidikan dasar sebagai dan landasan pendidikan selanjutnya, penting untuk menjadi perhatian. Ada tiga unsur pendidikan yang berpengaruh dalam mewujudkan pendidikan yang berkualitas yakni pengelolaan pendidikan, pembimbingan siswa dan kurikulum. Unsur kurikulum sebagai sentral dan jantung pendidikan merupakan alat dalam mencapai tujuan pendidikan yang telah di tetapkan. Agar obat kurikulum menjadi obat yang mujarab untuk mencapai tujuan pendidikan, maka penyusunan kurikulum wajib dilengkapi dengan “pisau bedah“ yang tajam dalam memilah penyakit yang terdapat dalam anatomi pendidikan.
Analogi diatas setidaknya menjadi alasan kuat posisi need analysis dalam penyusunan kurikulum. Disinilah arti penting penyusunan dokumen kurikulum berbasis kompetensi belandaskan need analysis. Keberadaanya menjadikan kurikulum kompetensi akan tepat sasaran untuk menjawab kebutuhan, tuntutan dan keunggulan suatu sekolah. Keberadaaan kurikulum berbasi analysis akan lebih tajam dilengkapi dengan silabus dan RPP yang berbasis need analysis, ciri keberhasilan keduanya dalam menjabarkan kurikulum terlihat dari ketercapaian tujuan dari kurikulum yang telah di susun.

H. DAFTAR PUSTAKA

Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP). (2006). Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Jakarta: BSNP
Mafudin, Azis. 2010. Need Assesment Dalam Pengembangan Kurikulum Dan Pembelajaran Bahasa Asing. Bandung: HIPKIN
Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 Tentang Standar Nasional Pendidikan. Jakarta
Peraturan Menteri Pendidikan Nomor 22, 23 dan 24 Tahun 2006 Tentang Standar Isi Untuk Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta
Sanjaya, Wina. 2010. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana Prenada Media Group
Supinah. 2008. Penyusunan Siillabus dan Rencana Pelaksanaan Pembellajaran (RPP) Matematiika SD dalam Rangka Pengembangan KTSP. Yogyakarta: Pusat Pengembangan Pendidik dan tenaga Kependidikan Matematika.
Suderajat, Heri. 2011. Manajemen Pembelajaran Tematik. Bandung: Sekar Gambir Asri
Sukmadinata, Nana syaodih. 2008. Pengembangan Kuikulum. Bandung : Remaja Rosdakarya
Sundayana, Wachyu. 2010. Persepsi Dan Kesulitan Guru Bahasa Inggris SMP/MTS di Jawa Barat Dalam Pengembangan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. Bandung: HIPKIN
Syaodih, Erliany. 2010. Pengembangan Dokumen KTSP Berdasarkan Analisis Konteks. Bandung: HIPKIN
Undang-undang Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003, Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s