DASAR PEMIKIRAN KURIKULUM HOLISTIK MIMHa

Posted on Updated on

Agus Awaludin
http://www.gurubelajar.wordpress.com

Kurikulum holistik berbasis karakter tauhid Madrasah Ibtidaiyah Interakatif Miftahul Huda (MIMHa) sebenarnya adalah bentuk peran serta kami dalam peningkatan kualitas pendidikan dan solusi keprihatinan terhadap penyelenggaraan pendidikan Indonesia yang hanya menekankan kepada bidang akademik semata, hal ini terlihat dari fakta yang paling kasat mata berupa UN sebagai satu-satunya penentu keberhasilan pendidikan dalam menilai kelulusan siswa yang hanya ditentukan oleh sisi akademik semata, dalam hal ini hanya diwakili oleh mata pelajaran Matematika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris untuk sekolah menengah, dan mata pelajaran Matematika, Pengetahuan Alam, dan Bahasa Indonesia untuk tingkat SD/MI.
Padahal kita menyadari betul bahwa kualitas suatu pendidikan sangatlah sempit bila hanya dinilai dan ditentukan oleh sisi akademik semata apalagi hanya menekankan aspek kognitif. Kondisi pendidikan Indonesia tersebut secara nyata bertentangan dengan tujuan pendidikan Indonesia yang kita susun sendiri sebagaimana tercantum dalam dalam UU SIDIKNAS RI No.20 tahun 2003 BAB II Pasal 3 yang menyatakan:
”Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.
Di lain hal penilaian keberhasilan dalam pendidikan seperti ini tentu sangat bertolak belakang dengan keyakinan kita bahwa manusia ini diciptakan oleh Allah SWT dalam beragam potensi yang berbeda-beda, sehingga sangat tidak adil bila kita hanya mengukur keberhasilan dan kegagalannya hanya ditentukan dari sisi kognitif ini semata. Apalagi bila kita hubungkan dengan teori Howard Gardner tentang kecerdasan majemuk, yang menjadikan potensi kognitif hanyalah sebagian saja dari potensi-potensi lainnya.
Selanjutnya hal yang menjadi pertanyaan kritis kita sekarang ini mengapa di negara kita hanya menjadikan sisi akademis sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan dalam belajar yang jelas-jelas bertentangan dengan tujuan pendidikan yang kita buat sendiri. Jawaban pertanyaan diatas kita dapati dalam sebuah paparan Ratna Megawangi (2000) mengenai pendidikan karakter, kita dapati fakta kemana sebenarnya kiblat pendidikan Indonesia sekarang ini yang menyebabkan negara kita hanya mengedepankan akademik sebagai indikator dalam keberhasilan belajar.
Sebagaimana induknya begitulah anaknya adalah ungkapan yang bisa menggambarkan kondisi ukuran keberhasilan pendidikan kita sekarang. sistem pendidikan Indonesia yang mengacu pada sisi akademik saja sebenarnya mengacu kepada sistem yang dipakai Amerika Serikat (AS), yang “asbaabun nuzulnya” sebenarnya dikembangkan terutama sebagai reaksi AS terhadap keberhasilan Uni Soviet meluncurkan pesawat luar angkasa Sputnik pada tahun 1957. Para pemimpin AS saat itu “panik”, sehingga segera mereformasi sistem pendidikannya agar lebih berorientasi pada penyiapan siswa untuk memasuki ke perguruan tinggi serta menitikberatkan pada kemampuan akademik siswa agar para lulusan mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK).
Strategi yang dipilih AS ini memang terbukti berhasil menjadikan AS sebagai icon IPTEK, dan menjadikan kualitas perguruan tinggi di AS menjadi paling unggul di dunia. Namun, strategi AS ini dikritik oleh Lester Thurow, seorang ekonom dari MIT sebagai strategi yang “salah” dalam menghadapi persaingan global.
Selanjutnya, Thurow (Ratna Megawangi, 2000) mengatakan bahwa strategi ini lebih mementingkan 10% bagian terpandai dari penduduk AS, karena yang akan berhasil hingga jenjang pendidikan tinggi untuk menguasai IPTEK hanyalah mereka yang mempunyai potensi akademik tinggi (IQ di atas 120). Padahal Hukum alam selalu menunjukkan bahwa dimana pun di muka bumi ini, yang memiliki IQ di atas angka tersebut (di atas 120) tidak lebih dari 10 persen penduduk (lihat Gambar dibawah). Namun bagaimana dengan 90% lainnya yang tidak memiliki kemampuan akademik secara spesifik seperti para pekerja, praktisi, seniman, dan lainnya sebagai bagian penduduk yang mayoritas ini. Tantangannya adalah apakah penduduk mayoritas ini sudah dipersiapkan untuk dapat bekerja secara profesional sehingga dapat menghasilkan barang dan jasa yang berkualitas tinggi?
Paparan lainnya Menurut Thurow, dalam hal kualitas produksi, negara AS kalah dengan Jepang karena strategi pendidikan di Jepang lebih mementingkan bagaimana menyiapkan tenaga kerja yang berkualitas dan profesional – yang merupakan bagian terbesar dari penduduk. Strategi pendidikan Jepang justru menyiapkan 50 persen siswa terbawah (dalam skala IQ) untuk menjadi tenaga kerja yang handal. Sedangkan mereka yang sangat tinggi kemampuan akademisnya (yang populasinya tidak lebih dari 15 %), akan masuk ke jenjang perguruan tinggi setelah menempuh ujian saringan perguruan tinggi yang sangat sulit (sering disebut “neraka ujian”). Dengan strategi seperti ini, maka terlihat bahwa sistem pendidikan di Jepang – terutama pendidikan dasar – dianggap relatif tidak sulit dan menyenangkan bagi anak-anak.
Berbeda kasus dengan Amerika sebagai induk semangnya, Indonesia yang menjadikan Amerika Serikat sebagai model sistem pendidikannya justru sedikit mendapat manfaat baik dari sisi akdemik maupun sisi nonakademiknya sebagai pilihan keberhasilan. Indonesia yang mengambil kebijakan dalam pendidikan menekankan sisi akdemik tetap saja secara internasional menduduki rengking akademik yang buruk hal ini tergambar dari data sebagai berikut :
Misalnya dalam penilaian Programme for International Student Assessment (PISA) 2003 Indonesia menduduki peringkat 39 dari 41 negara untuk Matematika, IPA posisi ke 38 dari 41 dan membaca 39 dari 41. Hasil survey matematika di 38 negara Asia, Australia, dan Afrika oleh TIMSS-R, menunjukkan bahwa Indonesia menduduki peringkat 34.
Dalam sisi diluar akademik yang jelas tidak mendapat priotitas kita dapati kenyataan index kualitas SDM kita berada di nomor 4 terbawah (nomor 102 dari 106 negara). Lebih rendah bila dibandingkan Vietnam sekalipun. Yang dikuatkan oleh hasil Survei PERC di 12 negara juga menunjukkan bahwa Indonesia berada di urutan terbawah artinya ke 12, satu peringkat di bawah Vietnam
Mencari kambing hitam tentang siapa yang salah dalam keterpurukan pendidikan Indonesia sepertinya bukan sesuatu yang paling penting kami lakukan apalagi bila dilihat kapasitas kami saat ini tentu bukan sesuatu yang produktif bila kami lakukan, karena tentu bukan menjadi solusi dari keterpurukan pendidikan di Indonesia. Namun keprihatinan mengenai kualitas pendidikan Indonesia secara nasional harus menggerakan diri membangun bagian pendidikan yang masih mungkin dapat diperbaiki dalam kapasitas kami untuk merubahnya. Dalam hal ini Madrasah Ibtidaiyah Interaktif Miftahul Huda (MIMHa) yang kini kami berada di dalamnya.
Penting bagi kami sebagai pembelajar Madrasah Ibtidaiyah Interaktif Miftahul Huda (MIMHa) melihat fenomena keterpurukan pendidikan Indonesia secara global untuk menyelematkan diri minimal tidak ikut serta tergerus dalam keterpurukan ini pandangan ini sepertinya kelihatan egois tapi bila kita mau secara jernih melihat tidak arif rasanya kita memikirkan sesuatu yang jauh dari kapasitas untuk merubahnya dan justru membiarkan sesuatu yang paling mungkin bisa merubahnya yakni sekolah kami Madrasah Ibtidaiyah Interaktif Miftahul Huda (MIMHa) ini.
Bagi Madrasah Ibtidaiyah Interaktif Miftahul Huda (MIMHa) pelajaran berharga yang bisa diambil dari keterpurukan pendidikan Indonesia adalah fakta bahwa pendidikan yang hanya mengedepankan aspek akademik saja yang berakibat mengorbankan mayoritas besar siswa didik yang tidak semuanya memiliki kemampuan kompetensi di bidang akademik yang tinggi justru menjadi bumerang dikemudian hari.
Untuk itu perlu bagi kami di Madrasah Ibtidaiyah Interaktif Miftahul Huda (MIMHa) menguatkan visi dan misi sekolah agar memiliki paradigma pendidikan yang bisa menghargai dan ramah terhadap semua siswa didik kami di MIMHa, sehingga mereka memiliki cara pandang yang positif terhadap diri mereka yang tentu akan memiliki efek positif dalam cara mereka bertingkah laku.
Paradigma seperti inilah yang kami pilih dalam penyelenggaraan pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah Interaktif Miftahul Huda (MIMHa) yakni paradigma yang berasas pada tujuan pendidikan holistik yang memandang keberhasilan pengajaran dari seluruh sisi potensi manusia sehingga akan terlahir generasi baru yang kata nabi Muhammad sebagai generasi yang memiliki kesempurnaan akhlaq sebagaimana sabda Nabi : ”Aku diutus kemuka bumi ini hanyalah untuk menyempurnakan akhlaq.” Hal ini juga dikemukakan juga sejak 2500 tahun yang lalu oleh Socrates tentang tujuan yang paling mendasar dari pendidikan adalah untuk membuat seseorang menjadi “good and smart”.
Manusia yang terdidik seharusnya menjadi orang bijak, yaitu mereka yang mengenal masalah dengan luas dan dapat memilih keputusan berdasarkan ilmunya sehingga terciptalah sebuah amal baik (amal shaleh) dalam seluruh aspek kehidupan berkeluarga, bertetangga, bermasyarakat, dan bernegara. Karenanya, sebuah sistem pendidikan yang berhasil adalah sistem pendidikan yang dapat membentuk manusia-manusia berkarakter dengan prinsip-prinsip yang bersumber dari keyakinannya kepada sang pencipta Allah Yang Maha Esa yang sangat diperlukan dalam kehidupannya sehingga menjadikannya insan yang arif (bijaksana) dalam menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya.
Karenanya bagi kami pengembangan kurikulum khas MIMHa ini diharapkan dapat semakin menguatkan dalam pembelajaran sebagai bagian dari pendidikan yang kami selenggarakan di Madrasah Ibtidaiyah Interaktif Miftahul Huda (MIMHa) dan mampu menampilkan kekhasan pendidikan yang kami selenggarakan sesuai dengan visi, misi, dan tujuan Madrasah Ibtidaiyah Interaktif Miftahul Huda (MIMHa) sebagai madrasah yang tidak hanya mengarahkan pembelajaran pada aspek akademis namun juga aspek karakter, dan kepemimpinan.
Selain mengacu pada kekhasan MIMHa dalam pengembangan Kurikulum Satuan Pendidikan (KTSP) juga mengacu pada standar nasional pendidikan untuk menjamin pencapaian tujuan pendidikan nasional. Standar nasional pendidikan terdiri atas standar isi, proses, kompetensi lulusan, tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pengelolaan, pembiayaan dan penilaian pendidikan. Dua dari kedelapan standar nasional pendidikan tersebut, yaitu Standar Isi (SI) dan Standar Kompetensi Lulusan (SKL) merupakan acuan utama bagi satuan pendidikan dalam mengembangkan kurikulum.

2 thoughts on “DASAR PEMIKIRAN KURIKULUM HOLISTIK MIMHa

    witingsupratman said:
    13 Juli 2011 pukul 14:52 am07

    Ass wr wb mas agus, boleh nanya gak ya, istilah holistik berbasis karakter itu dapat dari pelatihan institusi tertentu atau istilah yg mas agus dapatkan ? tks

    witing

      Agus Awaludin responded:
      15 Juli 2011 pukul 14:52 am07

      walaikum salam warahmatullah wabarakatuh …
      untuk holistik dan karakter itu biasa digunakan. untuk karakter tauhiid itu adalah pengembangan yang dilakukan di madrasah kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s