SAYA HANYA MENGIKUTI KEBENARAN

Posted on

SAYA HANYA MENGIKUTI KEBENARAN

Oleh Agus Awaludin

www. Gurubelajar.wordpress.com

 

Guru dan pendidikan

Mendidik dan guru sepertinya sebuah tautan kata yang tidak mungkin dipisahkan. Guru yang biasa dikatakan sebagai orang yang digugu dan ditiru merupakan bagian yang tak tepisahkan dengan pendidikan walaupun tentu untuk menjadi pendidik tidak mesti menjadi guru. Tapi ketika seseorang memilih menjadi guru maka mau ataupun tidak pendidik harus menjadi bagian dari fungsinya.

Pendidikan tentu merupakan sebuah proses yang tidak ada hentinya sebagaimana kehidupan, mendidik adalah kegiatan seumur hidup yang dikenakan pada setiap orang sadar atau tidak setiap orang sebenarnya memiliki tanggung jawab dalam dunia pendidikan di profesi manapun dia berada maka tak heran bila tuntunan suci memberi kita warning bahwa setiap kita adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban dengan kepemimpinannya. Bila kita menunjuki sebuah kebaikan maka kita akan mendapat bagian dari kebaikan itu dan bila kita menunjuki kepada keburukan maka siap-siap kita juga akan terus menikmati hasil dari keburukan yang kita tanamkan.

Kesadaran sebagi pendidik inilah yang mesti di sadari oleh setiap kita karena diposisi bukan seorang gurupun sebenarnya kita menjadi pendidik bagi lingkungan kita. Saya pikir ketika kesadaran menjadi bagian pendidik ini dimiliki oleh setiap kita maka semua pihak akan berusaha untuk berlaku tanggung jawab dan selalu memperhatikan apa yang dilakukannya karena setiap apapun yang kita lakukan akan berdampak kepada lingkungan karena kita adalah pendidik mau atau tidak, sadar ataupun tidak.

 

Guru dan Kebenaran

Dalam mendidik hal yang paling menjadi pegangan adalah nilai kebenaran dari apa yang akan kita sampaikan. Kebenaran bagi setiap orang memang seperti terlihat relatif, karenannya yang terpenting adalah kesadaran dan tanggung jawab dari kebenaran yang kita sampaikan ini yang harus selalu kita perhatikan. Masukan dan informasi yang menilai kebenaran yang kita pegang menjadi kunci pertanggung jawaban dan validitas kebenaran yang kita pegang selama ini.

Sebagi seorang guru mendengar merupakan sebuah aktivitas yang tidak henti dan selalu lebih kita dahulukan daripada menyampaikan. Aktivitas mendengar adalah bagian dari pertanggung jawaban kebenaran dari pendidikan yang kita lakukan seorang guru yang lebih banyak bicara daripada mendengar maka siap-siap dia akan banyak mendapati banyak menimbulkan kesalahan dari pada kebenaran yang dia lakukan dalam pendidikan.

 

Guru dan kesombongan

Dampak dari kebiasaan kurang mendengar adalah wawasan yang sempit yang akan menghantarkan kita menjadi anti kearifan, tertutup dari kebenaran dan menimbulkan rasa benar sendiri yang akan bermuara kepada penyakit kesombongan yang akan menutup kita dari kebenaran dan meremehkan orang disekitar kita.

Para pendidik terutama guru akan sangat rentan sekali terkena penyakit ini. Berkaca dari kisah Nabi Musa yang terlena dari posisi guru yang dia pegang maka ketika beliau ditanya “adakah yang lebih pandai dari beliau?” beliau menjawab khilaf dengan kata: “tidak!”.

Pendidikan dari yang Maha Benar datang kepada Nabi Musa dengan pernyataan ada orang yang lebih pandai dari Nabi Musa yakni Khadir. Beliaulah yang membuka pertemuan dengan nabi Musa dengan pernyataan bijaksana: “Aku mengetahui apa yang kamu tidak mengetahui dan kamu mengetahui apa yang tidak akau ketahui”. Pernyataan yang mendalam tentang kebenaran dan ketidak sempurnaan pengetahuan manusia. Mungkin pernyataan khadir ini bisa menjadi sebuah cambuk buat para jiwa pendidik untuk mencamkan pada dirinya bahwa dia tahu bahwa ada hal yang diketahui oleh dirinya dan tidak diketahui olehnya. Dan kalaupun dia tahu sesungguhnya lebih banyak dari ilmu di dunia ini yang tidak dia ketahui.

Saya Hanya Mengikuti Kebenaran

Perkataan ini saya dapati kita seorang guru ditanya oleh muridnya “ apakah kita sudah benar?” maka guru itu pun menjawab : “kita hanya mengikuti kebenaran?”. Bagi saya saat itu perkataan ini menimbulkan keterkejutan karena baru saya dengar. Perkataan yang bagi saya penuh dengan kebijaksanaan yang terlahir dari proses pencarian kebenaran. Kesadaran bahwa kita hanya mengikuti kebebanran akan terbaca sebagai kerendahan hati dan usaha untuk meninggalkan kesombongan yang menimbulkan klaim kebenaran hanya miliknya. Bayangkan jika semua pendidik memiliki nilai mental seperti ini maka akan terlahir kebijaksanaan secara masal yang akan melahirkan generasi pembelajar yang selalu belajar dari semua hal dan semua orang. Wallahua’lam.

 

 

 

 

One thought on “SAYA HANYA MENGIKUTI KEBENARAN

    masedlolur said:
    2 Maret 2009 pukul 14:52 am03

    ooo, pantas saja anak saya mengatakan:”Ayah menjadi guru ini tersesat di jalan yang benar”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s