MENJADI GURU YANG TIDAK MAPAN

Posted on

MENJADI GURU YANG TIDAK  MAPAN

Oleh: Agus Awaludin

www.gurubelajar.wordpress.com

 

Terinspirasi dalam sebuah obrolan dengan seorang pendidik di Cendekia leadership, Pak Er biasa kami menyebutnya. Saat itu beliau memberikan kepada saya sebuah gambar belum selesai yang menurut persepsi saya adalah gambar huruf A yang belum selesai. Disisi gambar itu Pak Er yang kreatif ini membuat kotak dan saya diminta untuk mengisinya, langsung saja saya isi menyempurnakan huruf itu menjadi huruf A seperti yang ada dalam benak saya. Pak Er tersenyum dan bertanya lagi pada saya kira-kira apa lagi Pak isi kotak itu, saya bilang huruf F, terus apa lagi, lanjutnya, apa ya kata saya.

Pak saya kan hanya minta ngisi kotak itu, itu teraserah Bapak mau mengisi apa!, tersentak saya saat itu ternyata saya sudah dbatasi oleh kotak persepsi yang saya miliki sehingga belenggu itu menjadi sebuah penjara bagi saya untuk memikirkan hal lain.

 

KELUAR DARI KOTAK

Setiap dari kita sebagai guru berkeinginan memiliki anak murid yang kreatif apalagi diera sekarang tingkat kecerdasan tidaklah cukup buat anak kita tetapi kreatifitas sangat dibutuhkan agar anak didik kita mampu beradaptasi dengan perubahan dalam lingkungannya, disanalah penting kreatifitas dimiliki oleh siapapun guna menyiapkan  diri kita dengan segala perubahan yang terjadi. Yang pasti diingat bahwa untuk menjadikan anak didik kita kreatif kita perlu menjadi guru yang kreatif karena kreatifitas itu bisa diajarkan oleh merek yang kreatif, tapi bayangkan bila belenggu-belenggu cara pandang, kesombongan, literatur atau pengalaman membatasi kita dari box kita dimanakah kreatif itu akan muncul.

 

 

 

ANTI KEMAPANAN

Kata-kata ini sempat menjadi predikat bagi para reformis di Negara tercita ini ketika mahasiswa menggugat perubahan maka pemerintah mencap Para pengusung perubahan ini dengan kata-kata “ANTI KEMAPANAN”, pada beberapa hal mapan memang sesuatu yang menyenangkan kita merasa aman dan tenang didalamnya, tapi bila ketenangan dan kenyamanan ini disertai dengan ketidakmauan untuk melakukan evaluasi perbaikan, maka itu kemapanan ini sudah menjadi penyakit yaitu tidak mau berubah dari posisi wenaknya.

 

HOW TO BECOME CREATIvE

Dalam sebuah parenting Class dibahas kreatif memiliki kata kunci perubahan dalam cara dan tidak mesti menghasilkan barang baru karena itu adalah daerahnya inovasi. Dalam kreatifitas titik tekan adalah penemuan cara baru dalam menghasilkan sesuatu, untuk itu diperlukan pengetahuan dari struktur yang baku dan memberikan sentuhan baru atau bahkan cara baru dari struktur yang sudah ada itulah kreatifitas.

 

KREATIF VS DISIPLIN

 Tidak jarang kita menjadi makhluk yang anti terhadap disiplin dan menganggap disiplin adalah penghambat kreatifitas, padahal disiplin memiliki makna sikap kontrol diri untuk menuju tujuan tertentu, belum dikatakan kreatif bila kita belum disiplin melaksanakan ide kreatif yang kita miliki karena kita tidak bisa mengontrol diri kita untuk melaksanakan ide kreatif yang kita miliki atau ide kreatif ini menjadi semena-mena terhadap hak orang lain karena tidak disiplinnya kita untuk tidak mengganggu hak orang lain dalam ide kreatifnya kita.

 

Karena itu perlu diselaraskan bagaimana kita mendidik anak menjadi jiwa creator namun mampu mendisiplinkan dirinya dengan mengkontrol apa mau nafsunya tanpa mengindahkan lingkungan disekitar baik itu norma, hak orang lain dan kewajibannya. Tentu aturan  dan tuntutan yang kuat perlu juga disertai komunikasi dan sentuhan hangat untuk anak-anak didik kita menjadi kunci bagaimana kita menyelaraskan kreatifitas dan disiplin diri yang akan bermanfaat bagi mereka dikemudian hari.

 

3 thoughts on “MENJADI GURU YANG TIDAK MAPAN

    nugieshare said:
    15 November 2008 pukul 14:52 am11

    Guru—yang baik-baik saja yang menjadi punyamu. Bisakah aku seperti itu?

    Faith99 said:
    15 Desember 2008 pukul 14:52 am12

    guru kencing berdiri ,murid kencing berlari
    guru-guru kreatif ,murid murid einsten-einsten abad 21…..Chayyo

    Agus Awaludin responded:
    16 Desember 2008 pukul 14:52 am12

    Terimakasih Bu tri dorongannya. Semoga Allah menjadikan Pilihan Bu Tri dan teman-teman di MIMHa sebagai pilihan yang akan selalu mendatangkan limpahan amal saleh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s