DUA MATA PISAU GURUKU

Posted on Updated on

DUA MATA PISAU GURUKU

Oleh: Agus Awaludin

 

Saat saat berkumpul dengan komunitas guru mengingatkan saya dengan guru-guru saya baik saat saya di sekolah dasar, hingga saat diperguruan tinggi mudah-mudahan balasan kebaikannya selalu mengalir kepada beliau semuanya. Berbicara tentang guru bagi saya memiliki tempat tersendiri sebagai Posisi yang memiliki 2 potensi besar seperti 2 mata pisau yang sangat tajam, satu mata pisau menghidupkan dan satu mata pisau bisa mematikan pilihan mata pisau yang akan kita gunakan tentu akan sangat menentukan apa yang akan kita dapatkan.

Seorang teman pernah bercerita saat ia disekolah dasar dulu ia sangat senang daengan kegiatan tulis menulis dan salah satu tulisannya ia kirimkan kesebuah majalah anak yang terkenal saat itu, dalam sebuah pelajaran bahasa saat itu dikelasnya semua anak diminta menuliskan karangan yang akan dinilai oleh gurunya begitupun dengan teman ini dengan semangat ia menuliskan karangannyya tentu dengan agaya tulisannya sebagai anak sd saat itu. Setelah selesai karangan itu ia buat luar biasa sebuah kejadian terjadi alih-alih ia mendapat motivasi menulis ia malah mendapai  kritikan pedas bahwa tulisannya ini menurut yang dia fahami dari yang disaampaikan gurunya sebagai tulisan yang buruk karena banyak menuliskan kata “yang”. Saat itu ia sangat terpukul sehingga menimbulkan ketidak percayaan diri untuk menulis kembali, tragisnya seminggu setelah kejadia itu dia mendapat kiriman surat bahwa tulisannya diterima dimajalah anak tersebut, namun kematian telah ditetapkan oleh kejadian dikelas itu sehingga jiwa penulisnya kini telah mati dan berat untuk dihidupkan kembali.

                Beda kasus dengan yang saya alami saat di sekolah lanjutan pertama saya ingat betul dengan guru olah raga saya yang menyuruh saya berlari mengelililingi lapangan bola padahal saya terbiasa untuk hanya menyaksikan mata pelajaran ini sejak sekolah dasar karena keterbatasan polio yang saya miliki, permintaan guru saya itu awalnya saya berat lakukan bukan karena larinya tapi saya harus mengalahkan ketidak percayaan diri saya untuk terlibat dalam pelajaran olah raga. Tapi dengan bersungguh-sungguh guru saya meminta saya untuk berlari dan saat itulah saya berlari yang bagia saya itu momentum mengalahkan ketidak percayaan saya untuk mencoba sesuatu dan mengalahkan apa yang saya pikirkan, pengalaman yang menghidupkan dan masih saya ingat sampai sekarang.

                Saya yakin tidak ada seorang gurupun yang ingin menggunakan mata pisau yang membunuh potensi anaknya setiap guru akan berkeinginan anaknya lebih maju tapi sadar atau tidak sekecil apapun yang kita lakukan sebagai guru akan berpengaruh kepada anak kita kedepan dan tentu akan berpengaruh terhadap apa yang kita akan petik disinilah beda rofesi guru dengan profesi yang lain resiko menjadi sebuah ladang kebaikannnya sangat besar sering dengan resiko mendatangkan kejelekan juga besar.Saya pikir untuk menjadi guru yang menghidupkan tidak cukup dengan niat baik tapi juga kepastian dengan apa yang kita lakukan memang sesuai dengan niat baik kita.

 

Tidak ada manusia yang sempurna

Kata-kata ini menjadi dalih terbesar kita untuk menghalalkan apa yang kita lakukan dan menyembunyikan hal yang sebenarnya bagi kita untuk melakukan sesuatu semau kita sebagi seorang guru sudah saatnya kita juga harus menyadari bahwa ketidak sempurnaan yang kita lakukan telah membunuh potensi anak kita sehingga mereka tidak bisa meraih apa yang seharusnya mereka dapatkan.

Masihkah kita akan berkelit dengan kata-kata itu saat “Sang Penanya” menanyakan kepada kita tentang apa yang kita lakukan sehingga membunuh atau menghidupkan anak kita dan dengan tenang kita berkelit tidak ada manusia yang sempurna padahal Allah tahu betul dengan apa yang kita lakukan dan diri kita.

 

Rasa takut dan harap

Dua hal yang kita sebagai orang yang telah memiliki guru miliki takut menjadikan kita berhati-hati karena apa yang kita lakukan bila salah akan membunuh anak kita, harap menjadikan kita berbuat semaksimal dan semampu yang kita lakukan agar bisa menghidupkan anak-anak kita, keduanya perlu seimbang kita miliki agar tidak memudah-mudahkan dan tidak pula terjadi ketakutan yang tidak proforsional yang dengannya kita takut untuk berbuat sesuatu.

 

Perasaan was-was  Vs Modal kepercayaan

Untuk berbuat kebaikan memang banyak tantangan dan resikonya karena apapun yang kita lakukan pasti ada balasannya, rasa takut yang berlibihan adalah bisikan yang membuat kita takut mencoba. Sebuah dialog sederhana pernah dilakukan seorang guru ketika dia merasa bersalah dengan apa yang dilakukan sebelumnya dan guru insprasinya berkata berbuatlah bu yang penting ibu tahu apa yang ibu lakukan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s