MELATIH KONSENTRASI DI KELAS

Posted on Updated on

MELATIH KONSENTRASI DI KELAS

“Randi, ayo duduk, Sayang. Selesaikan gambarmu!” kata seorang guru kelas di TK B. Perintah senada dilakukannya berulang-ulang, juga pada anak-anak lain. Mengapa anak prasekolah sulit fokus pada tugasnya?

Pemandangan anak-anak TK yang tak bisa duduk diam di kelas adalah biasa. Wajarnya memang begitulah mereka mengingat sebagian besar aktivitas anak usia prasekolah melibatkan gerak fisik dan bermain. Itulah mengapa, agak sukar bagi mereka bila harus duduk diam dalam waktu lama dan berkonsentrasi. “Sepertinya setiap anak dilengkapi dengan energi yang tak ada habis-habisnya untuk terus bergerak dengan lincahnya,” kata Dra. Geraldine K. Wanei M.Psi., Lektor Kepala Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Unika Atma Jaya, Jakarta.

Meskipun begitu, lanjut pendidik yang akrab dipanggil Gerda, anak-anak prasekolah boleh diajarkan untuk duduk diam menerima pelajaran. Apalagi di TK B (besar), anak-anak sebaiknya memang dipersiapkan untuk menerima sistem belajar di SD (Sekolah Dasar), dimana murid-murid mulai dituntut untuk tak ada lagi ribut atau berlarian di kelas. “Tetapi tentunya pengenalan itu hanya bisa dilakukan bertahap. Enggak bisa, kan, kalau tiba-tiba anak langsung disuruh duduk diam dan tak boleh berjalan-jalan di kelas.” Jadi, aturlah kegiatan anak agar dapat fokus pada tugas yang diberikan dan menyelesaikannya dengan memperhatikan prinsip berikut.

JANGAN LEBIH DARI 15 MENIT

Orang tua perlu tahu, tingkat kesabaran dan perhatian anak berkembang bersama-sama dengan perkembangan fisiknya, terutama otot-otot kecil pengendali gerakan. Konsekuensinya, anak usia 4 sampai 5 tahun umumnya lebih senang menyelesaikan tugas yang singkat, membongkar apa yang sudah dikerjakan dan memulainya lagi berulang kali.

“Nah, dengan melihat karakteristik ini, persiapkan tugas dengan rentang waktu yang sesuai.” Misalnya, tak perlu orang tua atau guru memberi pelajaran menggambar atau menggunting selama satu atau dua jam terus-menerus, karena umumnya anak-anak di TK hanya akan betah duduk diam paling lama 15 menit. “Jadi, guru harus mencari kegiatan yang bisa diselesaikan dalam jangka waktu 15 menit itu.”

Bila anak diberi tugas panjang yang membuat mereka harus duduk diam dalam waktu lama, maka fokus pada tugas dan konsentrasinya akan cepat hilang. Barulah setelah anak mampu duduk diam selama 15 menit dan asyik mengerjakan tugasnya, guru boleh meningkatkan waktunya secara bertahap, misalnya ditambah 5 menit, begitu seterusnya.

DILATIH SAMBIL BERMAIN

Namun Gerda mengingatkan, meski anak tampaknya semakin anteng mengerjakan tugas, bukan berarti kita lantas bisa membebaninya dengan pelajaran-pelajaran yang belum menjadi kewajibannya. Contoh, langsung mengajarkan membaca atau menulis. “Di masa TK, meskipun sudah di TK besar, kita menyebutnya masa pramembaca, pramenghitung dan pramenulis atau belum sampai pada berhitung, membaca atau menulis yang sesungguhnya. Semuanya masih dilakukan sambil bermain.” Intinya, tidak bijak jika anak prasekolah dipaksa cepat belajar membaca, menulis, dan berhitung sambil dituntut berkonsentrasi lama.

“Melatih anak untuk konsentrasi pada tugasnya juga bisa dilakukan sambil bermain, kok!” tukas Gerda. Jangan kita memforsir anak untuk belajar macam-macam di usia dini hanya untuk mengejar satu target. Umpama, harus sudah menghitung sekian puluh, padahal kemampuan anak usia 5 tahun mungkin baru 1 sampai 10. “Kalau dia hanya bisa sampai segitu, ya, itu saja yang dilatih untuk dikembangkan,” tandasnya.

SIKAP TUBUH BENAR

Membantu anak menumbuhkan konsentrasi belajarnya, lanjut Gerda, juga dapat dilakukan dengan mengajarinya sikap belajar yang benar. “Misalnya saja saat menulis, harus juga diperhatikan posisi duduknya supaya jangan sampai tiduran sambil kaki ke mana-mana.”

Jadi, jika ingin anak bisa fokus pada tugas yang dikerjakannya, guru harus mampu menunjukkan pada murid, bagaimana sikap duduk yang baik. “Kalau duduknya asal-asalan, tidak dengan punggung tegak, pasti sebentar saja anak sudah merasa capek, kan?”

Contoh lain, memegang pensil. Menurutnya, jika ada anak di usia SD yang masih belum mampu memegang pensil dengan baik, semisal masih seperti memegang palu atau memegang sendok, bisa saja karena waktu masih di TK B si anak belum diajarkan bagaimana memegang pensil yang tepat. “Kelihatannya sepele, ya, tapi salah memegang pensil bisa membuat anak jadi terganggu konsentrasinya karena bisa saja anak mengeluh jari-jarinya jadi sakit. Tentu kalau jari-jarinya sakit, bagaimana dia menyelesaikan satu tugas yang diberikan dalam waktu tertentu?”

ALAT BANTU SIAP

Selain itu, keberhasilan anak saat memberikan perhatian pada tugasnya juga bergantung pada kesiapan alat bantu yang ada. Misal, di kelas seharusnya guru sudah mempersiapkan alat peraga yang lengkap pada saat mengajarkan atau memberi tugas. Jangan lagi asyik-asyiknya menerangkan sesuatu, tiba-tiba terhenti karena guru terlupa salah satu alat. Akibatnya, anak-anak yang tadinya sudah fokus mendengarkan, bisa saja perhatiannya jadi buyar lagi karena si guru “grogi” mencari alat bantunya.

FISIK DAN KOGNISI HARUS SEIMBANG

BILA anak-anak hanya dibiarkan bermain mengembangkan fisiknya, mereka tak akan mengembangkan kognisinya. Oleh karena itulah kita perlu menyeimbangkan kegiatan fisiknya dengan kegiatan yang membutuhkan ketekunan dan konsentrasi semisal main lego, meronce, menggambar, atau pasel. Keberhasilan dalam menggunakan permainan ini tergantung pada kesabaran, koordinasi dan ketangkasan anak.

Anak dengan usia prasekolah akhir dapat diberi pasel dengan jumlah kepingan yang lebih banyak. Minta mereka menyelesaikannya sebelum beranjak dari tempat duduk. Ketika seorang anak sedang menyusun pasel atau membangun sebuah menara dengan balok-balok, dia belajar untuk berpikir dan menyelesaikan masalah. Mainan yang mengasah konsentrasi juga menolong anak membedakan bentuk dan pola-pola serta membangun koordinasi antara mata dan tangannya, sehingga mereka nantinya siap belajar membaca.

“Jadi, meski si anak aktif punya kesempatan bermain yang melibatkan fisiknya, ia juga perlu ketekunan. Dengan begitu, wawasannya jadi luas,” bilang Gerda. Bila anak hanya diarahkan bermain menggunakan fisik saja terus-menerus, ia kurang mendapat kesempatan memperoleh berbagai pengetahuan dan kurang terlatih ketekunan serta konsentrasinya. Menjadi tugas orang tua dan guru untuk mencari aktivitas yang menuntut konsentrasi dan ketekunan. Tentu saja disesuaikan dengan usia anak sambil tetap memasukkan suasana bermain.

GURU SLORDIG BUYARKAN SEMANGAT BELAJAR

BAYANGKAN bila si kecil berada di kelas yang awut-awutan, meja bergeser ke sana ke mari tak pernah dibetulkan letaknya, mainan menyebar di seluruh kelas sehingga mengganggu anak untuk bergerak, gambar-gambar di dinding kotor dan letaknya miring? Apalagi jika ditambah meja guru ternyata berantakan juga.

“Suasana kelas yang kacau bisa mengganggu anak dalam mengerjakan tugas-tugasnya,” kata Gerda. Contoh, anak ingin bermain pasel, tapi kepingannya banyak yang terselip entah di mana. Atau meja kursi berdebu sehingga anak bersin-bersin. Semua ini bisa mengganggu anak dalam proses belajarnya.

Belum lagi hal ini akan menimbulkan impresi pada anak-anak bahwa kerapian tidaklah penting. Semisal, “Bu guru oke-oke aja, tuh, mejanya berantakan.” Padahal ini bisa menjadi kendala bila anak ingin belajar tenang, rapi dan nyaman.(tabloid-nakita)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s